Nilai Tambah dari Minyak Jelantah

by Duitin • Nov 2020

1604571203-Blog-09---Nilai-Tambah-dari-Minyak-Jelantah-(1920-x-1080).jpg

Siapa di sini yang suka makan kol goreng?

Hmm, kol goreng emang enaknya nggak ada yang ngalahin sih. Apalagi kalau digoreng pakai minyak bekas goreng ayam, hmm... nagih!

Eh, tapi jangan sering-sering makan gorengan yang digoreng pakai minyak bekas pakai, ya! Sebab, minyak bekas pakai atau minyak jelantah yang dipanaskan berulang kali akan menghasilkan asam lemak jenuh sehingga bisa bersifat karsinogenik yang bisa membahayakan tubuh. Apa sih karsinogenik itu? Karsinogenik salah satu faktor penyebab tumbuhnya sel kanker. Jika suatu makanan memiliki sifat karsinogenik, artinya makanan tersebut bisa memicu tumbuhnya kanker dalam tubuh kita. Waduuh, gawat juga ya.

Meski berbahaya bagi tubuh, minyak jelantah jangan langsung dibuang begitu saja ya! 

Pasti kamu sering kan lihat limbah minyak jelantah dibuang sembarangan, misalnya lewat wastafel, selokan atau langsung ke tanah? Nah, pengelolaan limbah minyak jelantah yang sembarangan ini sangat berdampak negatif bagi lingkungan karena berpotensi mengganggu keseimbangan hidup biota dan meracuni ekosistem, bahkan, mempengaruhi ketersediaan air bersih yang bisa kita konsumsi. Berdasarkan data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, DKI Jakarta hanya memiliki 3% badan air yang layak dikonsumsi. Apalagi kalau bukan gara-gara minyak jelantah yang dibuang ke saluran air.

Dimakan nggak boleh, dibuang juga nggak boleh. Terus mesti gimana dong? 

Tenang, kamu nggak perlu khawatir. Kalau ada banyak jalan menuju Roma, maka ada banyak cara meningkatkan nilai tambah dari minyak jelantah. 

Yang paling gampang yaitu menggunakan minyak jelantah sebagai pengganti bahan bakar untuk lampu minyak. Ketika butuh penerangan darurat, misalnya ketika mati lampu dan tidak ada emergency lamp atau lilin, kamu bisa menggunakan minyak jelantah. Caranya mudah, cukup tuangkan minyak jelantah dalam kap lampu minyak atau wadah tahan api, lalu celup sumbu atau kapas pada minyak hingga membasahi semua bagian dan bakar dengan korek api. Voila! Penerangan daruratmu pun akan menyala.


Gak cuma sekedar jadi bahan bakar lampu minyak, minyak jelantah ternyata juga bisa jadi salah satu bahan dasar dalam membuat lilin aromaterapi, lho. Caranya, minyak jelantah dicampurkan dengan metoxida dan didiamkan hingga mengendap selama 4-12 jam. Tidak selesai sampai disitu, hasil endapannya juga harus dipanaskan bersama dengan stearin dan parafin sebelum dicetak. Hmm.. panjang juga ya. Lebih jelasnya, kamu bisa baca di sini  Lumayan kan buat kegiatan di akhir pekan. 

Ada lagi nih yang lebih menantang, menggunakan minyak jelantah sebagai bahan pembuatan sabun batang. Yes, you read it right, a soap. Sebelum membuat sabun dari minyak jelantah, kamu perlu merendamnya dulu selama 24 jam dengan arang atau goreng dengan jahe untuk menetralisir. Setelah itu, buat larutan NaOH dengan mencampurkan soda api bubuk ke dalam air (jangan sebaliknya karena bisa meledak). Larutan NaOH ini lah yang berperan penting mengubah minyak menjadi sabun. Selanjutnya, tambahkan fragrance oil sebagai pewangi dan ekstrak daun binahong sebagai anti bakteri. Kalau masih bingung, kamu bisa baca lengkapnya di sini

Hmm.. repot juga ya? Mager deh. Ada yang lebih praktis nggak?

Ada dong, buat kamu apa sih yang nggak 😄

Lewat Duitin, kamu udah bisa daur ulang minyak jelantah dengan mudah. Soalnya, sekarang Duitin udah bisa jemput minyak jelantahmu untuk didaur ulang, salah satunya menjadi bio-fuel. Dengan begitu, kamu jadi ikut membantu program pemerintah mengenai energi baru terbarukan.

Caranya gampang banget. Kamu tinggal buka aplikasi Duitin di smartphone-mu dan dengan pesan penjemputan minimal 2 kg*, minyak jelantah sudah bisa dijemput langsung ke depan rumahmu. Gampang banget kan? Yuk order sekarang! Bersama Duitin, minyak jelantah bisa jadi rupiah!

*)1 kg = 1,2 liter

Dengan berlangganan, kamu turut berkontribusi mendukung gerakan ini untuk masa depan yang lebih baik.