Kalau sebuah perusahaan ingin bicara soal sustainability, salah satu tempat terbaik untuk memulainya mungkin justru bukan dari luar.
Tapi dari orang-orang yang setiap hari tumbuh dan bekerja bersama di dalamnya.
Itulah yang kami lihat di MAKAFest 2026 💙
Digelar pada 19 Oktober 2026 di Kebun Raya Cibinong, MAKAFest Sama-Sama (Saling Jaga) menjadi ruang bagi keluarga besar MAKA untuk berkumpul, menikmati musik, makanan, permainan, dan waktu bersama. Buat sebagian orang, nama MAKA mungkin belum sefamiliar brand-brand yang tumbuh di dalam ekosistemnya, seperti Toko Kopi TUKU, Toodz House, toho Cafe, Beragam, hingga SORE.
Di tengah ramainya MAKAFest, ada satu hal yang tahun ini juga mulai dilakukan dengan cara yang berbeda: bagaimana sampah selama acara dipilah dan dikelola.
MAKA sebenarnya sudah menggunakan tempat sampah terpilah dalam kegiatan-kegiatan mereka sebelumnya. Tapi kali ini, mereka memutuskan untuk melangkah lebih jauh dengan menghadirkan waste educator di area acara.
Kelihatannya sederhana. Tinggal kasih petunjuk, tunjuk tempat sampah yang benar, lalu selesai.
Ternyata gak sesederhana itu.
Wadah makanan, misalnya, cukup sering masuk ke kategori kertas campur karena secara kasat mata memang terlihat seperti kertas. Tapi ketika sudah terkena sisa makanan, kuah, atau minyak, kondisinya berubah dan perlu ditangani sebagai residu. Cup minuman juga punya ceritanya sendiri. Sebelum kemasannya dibuang, es batu dan sisa cairan di dalamnya perlu dipisahkan terlebih dahulu.
Di sinilah kehadiran waste educator terasa.
Mereka bukan sekadar berdiri di sebelah waste station dan menunjuk kotak yang benar. Mereka membantu peserta memahami kategori sampah, mengingatkan untuk memisahkan sisa makanan dari kemasannya, membantu mengoreksi ketika ada sampah yang salah masuk, sampai berkeliling ke tenant makanan dan minuman untuk menjelaskan bagaimana pemilahan sebaiknya dilakukan.
Yang menyenangkan, peserta juga ikut merespons dengan terbuka. Beberapa memang belum terbiasa memilah, tapi mereka mau berhenti sebentar, bertanya, lalu mengikuti arahan. Tim MC pun ikut aktif mengingatkan peserta selama acara untuk memilah sampah sebelum membuangnya.
Akhirnya, pemilahan gak hanya bergantung pada tulisan atau warna yang menempel di kotak sampah. Ada orang yang membantu, ada komunikasi yang terus berjalan, dan ada kemauan untuk sama-sama belajar.
Mungkin memang seperti itulah sebuah kebiasaan mulai terbentuk.
Di balik waste station, ada sistem lain yang ikut bergerak. Trash bag yang sudah penuh dipindahkan oleh runner dari berbagai titik menuju holding area. Di sana, sampah kembali disortir, ditimbang berdasarkan kategorinya, lalu dicatat sebelum masuk ke proses pengelolaan berikutnya.
Area makanan dan minuman menjadi salah satu titik yang paling sibuk sepanjang acara. Gak mengherankan, karena di sana berbagai jenis sampah muncul hampir bersamaan: sisa makanan, wadah makanan, cup minuman, kardus, kertas, plastik, dan residu.
Dalam satu hari, ratusan kilogram sampah terkumpul untuk dipilah, ditimbang, dicatat, dan dikelola lebih lanjut.
Tapi buat kami, cerita MAKAFest bukan cuma tentang jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan.
Ada satu hal lain yang justru terasa lebih menarik.
Beberapa peserta ternyata sudah cukup akrab dengan waste educator Duitin yang bertugas hari itu. Mereka pernah bertemu sebelumnya ketika tim Duitin melakukan penjemputan sampah di toko-toko TUKU. Para barista TUKU pun terlihat lebih luwes saat memilah karena aktivitas tersebut sudah menjadi sesuatu yang mereka kenal dari keseharian di toko.
Interaksi yang biasanya terjadi dalam konteks operasional akhirnya bertemu kembali dalam suasana yang berbeda. Ada sapaan, ada obrolan, dan ada rasa familiar antara orang-orang yang selama ini mungkin bertemu karena sebuah jadwal penjemputan sampah.
Buat kami, detail seperti ini menarik karena menunjukkan bahwa sustainability pada akhirnya bukan hanya soal sistem, tempat sampah, atau angka yang dicatat di akhir kegiatan.
Ada hubungan antarorang yang ikut tumbuh di dalamnya.
MAKAFest juga menjadi pengingat bahwa membangun budaya keberlanjutan gak selalu harus dimulai dengan mengajak dunia luar terlebih dahulu. Ada sesuatu yang kuat ketika sebuah organisasi memilih untuk mulai dari lingkarannya sendiri: karyawan, barista, tenant, partner, dan orang-orang yang menjalankan bisnisnya setiap hari.
Bukan karena semuanya langsung harus sempurna. Justru karena ruang internal bisa menjadi tempat untuk belajar, mencoba, memperbaiki, dan membiasakan sesuatu bersama-sama.
MAKA sudah menjalani perjalanan pengelolaan sampah bersama Duitin selama beberapa tahun. Kalau sebelumnya perjalanan itu banyak terjadi di balik operasional toko, MAKAFest membawa semangat yang sama ke ruang yang berbeda.
Kali ini bukan hanya tentang sampah yang dijemput setelah aktivitas bisnis selesai. Pemilahan menjadi bagian dari pengalaman acaranya sendiri, dan semua orang punya kesempatan untuk ikut mengambil peran.
Duitin senang bisa menjadi bagian dari proses tersebut bersama tim MAKA, penyelenggara acara, para waste educator, runner, sorter, tenant, MC, dan seluruh peserta yang ikut berpartisipasi sepanjang hari.
Karena sustainability yang tumbuh dari dalam bukan berarti harus berhenti di dalam.
Justru ketika kebiasaan, pemahaman, dan sistemnya sudah mulai terbentuk di antara orang-orang yang menjalankannya setiap hari, semuanya punya peluang lebih besar untuk ikut terbawa ke luar.
Mulai dari dalam. Dibangun bersama. Lalu dibawa ke mana pun kita berjalan 🥳