Cosmobeauté Indonesia 2026: Sampah Event Gak Cukup Cuma Diangkut

by Duitin • October 2026

Cosmobeauté Indonesia 2026: Sampah Event Gak Cukup Cuma Diangkut

Kalau datang ke sebuah pameran besar, perhatian kita biasanya tertuju pada apa yang terlihat di depan mata. Booth yang ramai, produk baru, live demonstration, seminar, aktivitas bisnis, sampai orang-orang yang terus berpindah dari satu hall ke hall lainnya.

Tapi ada satu hal yang hampir selalu ikut bergerak di belakang semua kesibukan itu: sampah.

Cup minuman yang sudah kosong, kardus dari aktivitas exhibitor, kemasan dari area makanan dan minuman, sampai berbagai jenis sampah lain bisa terkumpul dalam waktu yang sangat singkat. Dan ketika skalanya sudah sebesar sebuah exhibition, memastikan area tetap bersih sebenarnya baru satu bagian dari pekerjaannya.

Karena sampah event gak cukup cuma diangkut.

Itulah salah satu hal yang kembali kami kerjakan bersama Cosmobeauté Indonesia pada 2026. Untuk tahun kedua berturut-turut sejak 2025, Duitin dipercaya menjadi official waste management partner Cosmobeauté Indonesia, pameran B2B untuk industri kecantikan yang diselenggarakan oleh PT Pamerindo Indonesia.

Cosmobeauté Indonesia 2026 berlangsung pada 1–3 Oktober 2026 di Hall 5–9 Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City. Memasuki penyelenggaraan ke-19, event ini menempati sekitar 25.000 meter persegi area pameran dengan lebih dari 600 perusahaan, lebih dari 1.550 beauty brands dari berbagai negara dan wilayah, serta puluhan seminar, workshop, demonstrasi, kompetisi, dan aktivitas bisnis sepanjang tiga hari.

Dengan aktivitas sebesar itu, sampah tentu ikut dihasilkan dari berbagai titik yang berbeda.

Ada sampah dari area pameran, booth exhibitor, area makanan dan minuman, loading dock, sampai aktivitas operasional di belakang layar. Karakter sampahnya pun gak selalu sama. Karena itu, pengelolaannya gak bisa hanya dimulai ketika semuanya sudah terkumpul di akhir hari.

Salah satu bagian pentingnya justru terjadi sejak awal: pemilahan.

Sampah yang dipisahkan sedekat mungkin dengan titik tempat sampah tersebut dihasilkan punya peluang lebih besar untuk tetap berada dalam kondisi yang sesuai untuk diteruskan ke jalur pengelolaan berikutnya. Sampah daur ulang, misalnya, bisa kehilangan kualitas ketika sudah tercampur dengan makanan, cairan, atau residu lain.

Secara konsep terdengar sederhana. Tapi ketika diterapkan di beberapa hall dengan ratusan exhibitor, tenant, tim operasional, dan ribuan pengunjung yang bergerak sepanjang hari, sistemnya membutuhkan banyak pihak untuk bekerja bersama.

Duitin berkolaborasi dengan PT Pamerindo Indonesia, ICE BSD, dan Bilss Service Management untuk mendukung pengelolaan sampah selama acara. Mulai dari memahami titik-titik yang menghasilkan sampah, mendukung pemilahan dan pengumpulan, melakukan penyortiran lanjutan ketika diperlukan, sampai memastikan sampah daur ulang bisa diteruskan ke jalur pengelolaan yang sesuai.

Masing-masing pihak punya peran berbeda, dan justru di situlah pengelolaan sampah sebuah event besar benar-benar bekerja.

Organizer menentukan arah dan standar penyelenggaraan. Venue memahami bagaimana fasilitas dan pergerakan operasional berjalan. Tim kebersihan dan operasional memastikan pengumpulan tetap berjalan sepanjang acara. Exhibitor serta tenant berperan dari sampah yang dihasilkan di area mereka, sementara pengunjung juga ikut menentukan seberapa baik sistem pemilahan bisa bekerja.

Jadi menyediakan tempat sampah terpilah memang penting. Tapi tempat sampahnya sendiri gak akan menjalankan keseluruhan sistem.

Masih ada proses pengumpulan, penyortiran, penimbangan, pencatatan, pengangkutan, sampai penentuan jalur selanjutnya untuk masing-masing jenis sampah. Dan pekerjaan itu masih terus berjalan bahkan setelah pengunjung mulai meninggalkan area exhibition.

Di sinilah data juga punya peran.

Ketika volume dan kategori sampah dicatat, penyelenggara bisa mulai memahami lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi selama event. Bukan cuma berapa banyak sampah yang terkumpul, tetapi jenis sampah apa yang paling banyak muncul, bagian mana yang menghasilkan volume lebih besar, dan bagaimana hasil pemilahan bisa diteruskan ke proses berikutnya.

Informasi seperti ini penting karena waste management seharusnya bisa terus dievaluasi.

Apa yang sudah berjalan dengan baik? Bagian mana yang masih bisa diperbaiki? Apakah fasilitas pemilahan sudah berada di titik yang tepat? Apakah sampah daur ulang masih banyak tercampur dengan residu?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut bisa menjadi dasar untuk membuat penyelenggaraan berikutnya lebih baik.

Pendekatan ini juga sejalan dengan komitmen Cosmobeauté Indonesia untuk menyelenggarakan event secara lebih bertanggung jawab. Upayanya gak hanya menyentuh pengelolaan sampah, tetapi juga mendorong pengurangan sampah, keterlibatan exhibitor dan supplier, penggunaan kembali berbagai elemen penyelenggaraan ketika memungkinkan, hingga pengukuran terhadap aktivitas sustainability yang dilakukan.

Buat kami, bagian ini penting.

Karena sustainability dalam sebuah event gak seharusnya hanya terlihat melalui pesan yang muncul di panggung atau komunikasi kepada pengunjung. Ia juga perlu hadir dalam keputusan-keputusan operasional yang mungkin justru gak banyak terlihat.

Bagaimana sampah dipilah. Bagaimana sampah dikumpulkan. Apa yang masih bisa diarahkan ke jalur daur ulang atau pemanfaatan berikutnya. Apa yang akhirnya menjadi residu. Dan apakah semuanya cukup tercatat sehingga kita bisa belajar dari satu event ke event berikutnya.

Cosmobeauté Indonesia 2026 tetap menjadi ruang untuk mempertemukan industri, memperkenalkan produk, membuka kesempatan bisnis, dan menghadirkan berbagai pengalaman bagi pengunjungnya.

Tapi ketika tiga hari acara selesai dan exhibition hall mulai kembali kosong, ada pekerjaan lain yang masih perlu dilanjutkan.

Karena memastikan venue kembali bersih memang penting.

Tapi pengelolaan sampah yang bertanggung jawab gak berhenti ketika sampahnya sudah diangkut